XtGem Forum catalog

KISAH HIDUPKU
(kisah nyata)

HALAMAN 3

Walau dengan banyak rintangan (gak aku ceritain smua,hanya sebagian kecil saja),akhirnya tibalah waktunya dimana aku harus mengikuti ujian akhir di kelas 3.Aku semangat sekali untuk belajar.Sehingga ketika pengumuman kelulusan,aku sangat gembira sekali karena dinyatakan lulus.

Tidak sia-sia memang perjuanganku selama 3 tahun untuk bisa berhasil menuntaskan pendidikan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama walau sebenarnya aku agak kecewa karena aku melanjutkan ke SMP Kristen.

Selama menempuh pendidikan di SMP Kristen ini,banyak hujatan dari masyarakat dan teman-teman tetanggaku bahwa aku sudah murtad katanya.Menyakitkan memang dituduh begitu,tapi karena keinginanku demikian kerasnya maka semua perkataan itu masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri

Seperti halnya ketika aku lulus dari Sekolah Dasar,kebahagiaanku hanya sesaat karena aku mulai pusing lagi untuk meneruskan sekolahku ke jenjang yang lebih tinggi.Cita-cita ku untuk menjadi guru maka aku harus meneruskan ke SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dan ini lebih sulit lagi karena sekolah itu jaraknya jauh dari tempatku (tidak bisa di tempuh dengan berjalan kaki).Disamping itu,biayanya lebih mahal dari pada SMP.

Beruntung guru-guru SMP ku pada baik,mereka mengerti dengan keadaan dan cita-citaku.Mereka ikut memberikan saran-saran yang aku butuhkan.

Sebenarnya guru-guru SMP ku memberikan saran padaku untuk meneruskan ke SPG Kristen di jawa tengah,jika mau maka mereka akan membantu mengurusnya sampai aku bisa masuk ke SPG tersebut.Namun setelah aku pikir-pikir,masa aku sekolah di sekolah Kristen terus.Akhirnya ku putuskan untuk mencoba ke SPG yang berlokasi di kab.Cirebon dulu.SPG itu adalah SPG Negeri Cirebon.

Tapi aku bimbang juga si,soalnya jika diterima di SPG N Cirebon pun maka dari mana untuk pembiayaan sekolahnya,sedang guruku Pak Heriyantara hanya sanggup membiayai sekolah tingkat SMP saja.

Jika aku masuk ke SPG Kristen yang ada di jawa tengah maka kemungkina aku akan bebas biaya.Tp aku gak enak krn aku gak mau sekolah di sekolah Kristen terus.Selama di SMP saja telingaku rasanya panas terus mendengar ultimatum dari masyarakat bahwa aku sudah murtad.

Dari pada aku terombang-ambing dalam kebimbangan,akhirnya kuputuskan untuk nekat mengikuti test masuk ke SPG N Cirebon saja.Urusan biaya gimana nanti ajalah,demikian yang ada dibenakku saat itu.

Setelah merasa mantap maka aku kemukakan kebulatan tekadku itu pada guru-guru SMP ku.Aku juga minta bantuannya juga dari mereka.Dan mereka pun sangat bijaksana serta berjanji mau membantuku termasuk dalam pembiayaan ketika pelaksanaan proses test ke SPG N Cirebon

Akh...betapa terharunya melihat niat yang tulus dari mereka untuk membantuku.Ternyata mereka kompak untuk patungan dalam pembiayaan buatku.Tak terasa air mata ini jatuh ke pipiku.Aku terharu krn ternyata kasih sayang mereka melebihi orang tuaku.Terimakasih ya Allah,berkat kuasa Mu juga akhirnya aku selalu ada yang memperhatikan.

Sebelum pelaksanaan test tiba,aku belajar sangat keras agar bisa lulus test,karena aku tahu sainganku atau yang daftar ke SPG N Cirebon sangat banyak jumlahnya.

Akhirnya tibalah waktu pelaksanaan test tersebut.Aku berangkat harus naik mobil karena jaraknya lumayan jauh yaitu sekitar 35 km.Dan semua keperluan pembiayaan untuk pelaksanaan test benar-benar ditanggung oleh guru-guru SMP ku.

Selang beberapa waktu tibalah waktu pengumuman hasil test keluar.Agak deg deg an juga aku,tapi akhirnya aku melihat langsung juga ke SPG nya.

Tak kusangka dan tak kuduga,ternyata aku lulus diterima di SPGN Cirebon.Betapa bahagianya aku.Sepulang dari SPG langsung aku mengabarkan keberhasilanku pada ibu asuhku dan guru-guru SMP ku.

Lalu guru-guruku bertanya padaku tentang langkah selanjutnya karena bersekolah di SPGN Cirebon perlu ongkos setiap harinya.Mendapat pertanyaan seperti itu,aku pun menjadi bingung sendiri.Lalu guru-guruku memberi saran agar mendatangi perusahaan bus yang ada di daerahku kepunyaan orang Tionghoa.Namanya P.O MEKAR.Dan yang punyanya termasuk orang tua murid temanku,jadi ia sudah sedikit tahu tentangku.

Langkah selanjutnya kuberanikan diri untuk datang ke tempat perusahaan bus tersebut.Beruntung aku bisa ketemu langsung dengan yang punyanya.

Setelah bertemu dengan yang punya perusahaan mobil,maka aku kemukakan maksud kedatanganku yaitu untuk meminta kemurahan hatinya agar klo aku naik mobil miliknya jangan dipinta ongkos.

Nasib mujur berkat kasih sayang Allah padaku rupanya masih selalu mengikuti.Ternyata karena iba melihat nasibku maka ia bersedia membantuku sesuai dengan yang diharapkan.Lalu ia berpesan padaku agar nanti sore datang kembali ke rumahnya.

Sore harinya aku datang kembali ke rumahnya.Setelah bertemu dg dia,aku langsung diajak ke garasi mobil.Disana udah banyak sopir-sopir bus mekar yang sedang pada kumpul krn kalau sore hari semua bus mekar masuk ke garasi.

Aku diperkenalkan pada semua sopir dan terutama kondekturnya.Yang punya perusahaan mobil itu berkata pada semua karyawannya agar klo aku naik mobil jangan dipinta bayaran.

Aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada orang yang punya perusahaan mobil tersebut.Lalu akupun pulang kembali ke rumah.

Karena aku gak punya uang untuk ongkos mobil,jadi ketika hari pertama berangkat sekolah,aku selalu menunggu bus "mekar" baik ketika berangkatnya maupun ketika pulangnya.

Mulai sejak masuk sekolah dan hari-hari berikutnya,aku berangkat dan pulang selalu naik bus mekar.Berangkat dari rumah sekitar pk 04:30,dan pulng ke rumah sekitar pk.17::

Rupanya penderitaanku tiada kunjung berakhir,pas aku menginjak kelas 2 SPG ibu asuhku yang sudah sangat tua itu dipanggil oleh Allah SWT.Sebuah penderitaan yang sangat berat bagiku,aku menangis keras,hatiku menjerit pada Allah SWT.

Ya Allah...kenapa Engkau panggil ibu asuhku yang sangat menyayangiku,kepada siapa lagi kini aku menggantungkan hidup?

Air mata ku turun seolah tiada henti-hentinya.Kini...jangankan untuk biaya sekolah,untuk makan saja aku berarti harus kerja.Aku harus bisa mencari uang sendiri untuk mempertahankan hidupku.Tapi jika aku bekerja,artinya aku harus keluar dan meninggalkan sekolah yang kini sudah menginjak kelas 2.

NEXT/SELANJUTNYA